STRUGGLE - DINAMIC - EQUALITY - EGALITARY - SOCIAL - RELIGY - WELFARE - LEARN - ECONOMIC - USEFUL

Kamis, Juli 03, 2008

DEFINISI SYUKUR dan PEREMPUAN

Kayaknya sekarang telah bergeser definisi cara bersyukur, dikarenakan oleh culture materialisme yang dihembuskan dan santer digerojokkan berbagai kebutuhan dan produksi massal yg menjadikan semua produk tampak gampang didapat, lebih murah, dan juga dibarengi berbagai promosi yang menggiurkan.
Bukannya kebutuhan yg sekarang menjadikan dasar seseorang melakukan transaksi tetapi sekarang lebih banyak karena faktor keinginan, perasaan serba kurang dan segera dipenuhi apa yg ada difikiran ato benaknya.

Rasa cukup dengan apa yg diberikan oleh Tuhan kita dengan segala pemberian rizki baik yg berujud materi atau non materi, ketika ditabrakkan dengan lingkungan sekitar yg serba materialis tersebut menjadikan serba kurang apa yang dipunya. Semua bidang sekarang telah teracuni oleh paham materialisme, kalo pingin cari sekolah yg bagus tentunya dengan harga yang bagus juga, kalo pingin cantik secara fisik harus di poles dengan berbagai macam asesori yg dikira membuat dirinya semakin menarik, penghargaan status seseorang jg seringkali diukur dengan berapa banyak materi yg dia punya, dll.

Istri-istri sekarang ato wanita begitu juga lebih gampang tergoda ato dengan perasaan halus yang dia punya menjadikan ukuran materi sebagai salah satu tolok ukur utk mendapatkan pasangan, dan kurang merasa cukup terhadap apa yang diberikan oleh suami-suami mereka sehingga sekarang kita saksikan wanita-wanita bebas berkeliaran walau di malam hari berjalan sendirian pulang kerja tanpa muhrim ato tanpa takut yg hal ini dimungkinkan keadaan sekarang yg lebih kondusif tingkat keamanannya. Mungkin alasan peran ato ingin ikut berpacu dalam kompetisi dunia yang semakin kompetitif antar gender, antar bangsa, antar budaya, untuk memperebutkan kue rizki yg ada dan diberikan oleh sang Khaliq.
Tapi mbok yao jangan sampai aturan-aturan yang sudah digariskan oleh Sang Rabb tentang peran dan tanggung jawab sebagai seorang wanita, sebagai seorang istri terabaikan dan lebih mementingkan / prioritas untuk urusan diluar yg mungkin dianggapnya lebih penting dan ikut membantu secara ekonomi.
Lihatlah betapa banyak kerusakan yg terjadi ketika wanita bebas keluar dari rumahnya dengan menuntut peran yang lebih luas bahkan cenderung bebas, sehingga menjatuhkan martabat mereka sebagai perempuan. Peran2 domestik dianggap bukan tugas mulia, bukan sebagai ladang ibadah, tetapi seringkali ucapan karena capek, karena kurang bebas merasa keluarga menjadi beban atau penjara dalam kehidupan mereka.
Berapa anak dan keluarga yang terabaikan ketika peran domestik ditinggalkan dari pada keberhasilan yg didapat dari keluarga yg bisa menyeimbangkan peran domestik dan peran diluar secara bebarengan. Mungkin secara prosentase lebih banyak madhorotnya dari pada manfaat yg diperoleh.
Atau terserahlah bagaimana mendefinisikan syukur dan peran domestik di dunia ini sekarang, memang agak membingungkan. Tetapi biar sajalah .... bagaimana manusia menafsirkan AYAT-AYAT ALLAH dalam kehidupan ini.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda