Sambutan Ramadhan Presiden Dan Sekulerisme
Dalam sambutannya sang presiden di republik dengan penduduk Islam terbesar di dunia adalah meminta umat Islam untuk lebih tangguh menghadapi tantangan dan sabar dalam menghadapi kesulitan. Dengan menjalankan ibadah puasa dengan ikhlas agar mendatangkan kemaslahatan bagi semua umat manusia dan kebaikan bagi bangsa dan negara.
Ini masih mengindikasikan kurang pekanya penguasa yang hanya meminta kepada rakyat atau bawahannya tidak pernah memberi teladan apakah ia sudah melaksanakan kewajiban-kewajiban untuk memberikan pendidikan yang murah dan terjangkau bahkan gratis, kesehatan yang murah, pelayanan publik yang tidak berbelit-belit, pembangunan tanpa penggusuran, perubahan tanpa kekerasan. Penguasa bak tuan yang bisanya menyuruh kepada hambanya dengan cara-cara / bahasa agama yang lebih bisa diterima dan sedikit reaksi dari rakyatnya.
Dengan meminta melakukan ibadah seikhlas-ikhlasnya, persepsi yang salah terhadap ibadah inilah yang akhirnya menjadi kontradiksi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melayani masyarakat, mempermudah urusan, memberikan akses yang luas, pendidikan yang murah, pelayanan kesehatan yang murah dan berbagai kegiatan pembangunan yang memberikan kesejahteraan kepada rakyat banyak mungkin dianggap bukan sebagai ibadah.
Inilah sebenarnya pemahaman sekuler yang kita tidak sadari, bahwa urusan dunia dan akhirat yang terpisah. Sehingga perlombaan meraih jabatan, kekuasaan, korupsi, dan aksi-aksi pencurian uang negara, asset-asset negara yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat banyak terabaikan, semua urusan itu bisa dengan sekejap digantikan dengan cara menunjukkan kesolehan-kesolehan pribadi seperti dengan uang hasil / sumber yang tidak halal tersebut untuk keperluan menyumbang pesantren, masjid, ataupun untuk berhaji.


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda