TEOLOGI PERJUANGAN
RA Kartini dengan semboyannya habislah gelap terbitlah terang adalah mengadopsi dari Qur'an mina dzulumati ila nnuri dari kedzaliman menuju kepada cahaya.
Atau teologi para ulama - ulama kita dahulu dalam melawan penjajahan Belanda, dengan basis pesantren2 tradisional yang banyak mengkaji ilmu2 agama tetapi dalam bidang muamallah kaum pesantren yang mempelopori pergerakan itu. Kita lihat KH Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, dan banyak lagi laskar2 Islam yang perannya tidak bisa dianggap kecil untuk menjadikan Indonesia bebas dari belenggu penjajahan.
Kok sekarang belum ada yang mengkaji dan mengembangkan teologi yang mengajarkan kita untuk cinta pada tanah air, cinta pada aturan Allah, pengajaran untuk tidak bermegah-megahan, pengajaran untuk tidak boros, pengajaran untuk tidak korupsi. Apakah karena media yang digunakan ulama kita yang hanya lewat ceramah-ceramah sudah tidak menarik dan kalah dengan media yang diciptakan oleh barat yang dikemas dengan apik lewat musik, sinetron, film, iklan2 yang sangat merangsang. Akankah teologi muamallah kita kalah dengan teologi barat yang berusaha untuk menyusup sampai tulang rusuk, sampai kamar2 kita lewat TV, Radio dan perangkat2 hiburan yang melenakan dan melupakan untuk mempelajari teologi2 ini.
Ulama seringkali hanya dibutuhkan dan didekati ketika adanya Pemilu lihatlah para calon pemimpin mendekati banyak ulama2, guru2 kita agar mereka mau memberikan dukungan dan mengajak masanya untuk memilih mereka, tetapi ketika para konstituen itu terkena dampak pembangunan, tertimpa bencana mereka lupa dengan ulama, dengan rakyatnya.


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda