Refleksi Society
SYAFI’I MAARIF SAID : karena situasi dan kondisi Indonesia ini yang memang kurang menghargai suatu karya, suatu kerja atau prestasi dari seorang warga Negara maka sampai kapanpun kita akan menjadi stagnan dengan keadaan yang sekarang. Hasil karya dan prestasi ketika tidak bisa diaktualisasikan dan diakui oleh lingkungan di sekitarnya akan menjadi bom waktu yang setiap saat akan meledak bisa berujud jelek-jeleknya revolusi yang akhirnya merugikan suatu bangsa. (Kompas, Sabtu 25 Agustus 2007)
Krena tindakan-tindakan yang tidak mengindahkan dan menghargai karya dan budaya ditambah makin menggejala yaitu mental menerabas dengan cara apa saja untuk mencapai tujuan menjadikan system kita memang system yang rusak luar dalam. Lihat bagaimana Imam Samudra mengekspresikan karyanya di luar system yang ada, seseorang yang cerdas dan memiliki bakat yang seharusnya bisa dimanfaatkan akhirnya berujung pada sesuatu yang kurang baik menurut pandangan hokum Negara, ataupun semangat berkobar-kobar Abu Bakar Baasyir atau FPI yang ingin menegakkan kebenaran dikarenakan memang hokum kita belum bisa mengatasi kondisi-kondisi yang ada sekarang yang memang masih tebang pilih, bisa di pesan, bisa diganti dengan uang, bisa kongkalikong, seharusnya semangat-semangat tersebut dimanfaatkan untuk benar-benar demi kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat banyak.
Untung saja masih banyak orang kreatif yang tidak mau bergantung kepada Negara walaupun dalam kehidupannya secara material kekurangan. Orang-orang kreatif inilah yang menggerakkan sector-sektor informal yang makin terpinggirkan dan teraleniasikan oleh Negara sendiri yang sebenarnya sebagai pengayom, pelindung dan tentunya menjadi mediator kesuksesan semua warganya. STAG STATE


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda