OPTIMISME TIM EKONOMI JEBOL
Beberapa saat 1 atau 2 bulan yg lalu saat banyak dana asing masuk ke Indonesia banyak para pengamat yang melihat fenomena hot money ini sebagai sesuatu yang harus diperhatikan. Tetapi saat itu juga tim kabinet ekonomi optimis fundamental perekonomian kita sudah lumayan kuat jadi jangan terlalu ditakutkan.
Sekarang ketika terjadi resesi atau gejolak di pasar perumahan Amerika Serikat ternyata berdampak di berbagai belahan ekonomi dunia, Uni Eropa dan Jepang saja menggelontorkan uang untuk menambah likuiditas di pasar uangnya, beberapa Pasar Saham dunia juga anjlok tentu saja di negara kita juga mengalaminya baik di pasar saham maupun pasar uang.
Kurs kita jatuh begitu juga nilai indeks saham gabungan juga mengalami kejatuhan yang paling besar diantara negara-negara di Asia.
Prediksi yang optimis dari tim ekonomi kita yang memang orang ahli ekonomi makro dari UGM maupun UI Pak Boediono dan Sri Mulyani, sektor2 unit usaha kecil dan menengah yang sekarat, daya beli masyarakat kecil yang turun, stabilitas harga minyak goreng, telur, minyak tanah dan konversi gas yang belum mengenai sasaran di tingkat implementasinya.
Memang para ahli kita itu secara hitung2an prediksi dengan forecastingnya mengukur sesuatu apakah itu manusia hanya diukur sebagai angka-angka yang tidak punya hati nurani dan perasaan.
Saya sebagai finance di perusahaan saja kalau sedang nyiapin proposal proyek faktor yang memang gampang di tekan adalah faktor tenaga kerja sedang faktor yang lain fixed, sebenarnya hal ini menjadi pikiran saya juga, tapi mau bagaimana lagi memang itung2an angka global, bermain angka, prosentase tambah sana kurang sini, padahal yang terlibat nantinya dalam suatu proyek itu imbasnya ke banyak orang ribuan bahkan mungkin ratusan ribu atau jutaan. Itung2an inipun bisa disiapkan dalam waktu yang singkat saja, tetapi dampaknya bisa tahunan dan jangka panjang.
Apalagi negara yang dampaknya lebih besar lagi bagi seluruh rakyat Indonesia, apakah permainan2 angka di kantor diterangi lampu yang terang, dengan suhu udara yang nyaman, duduk di kursi empuk kurang untuk turun ke lapangan dengan trial and error secara acak di beberapa daerah kemudian ketika berhasil baru diterapkan ke daerah lain. Mungkin karena ingin cepat, ingin serba instan, dan hasilnya bisa dilihat dengan segera mereka ingin membuktikan kepada atasanya apakah itu menterinya atau itu presidennya ataupun menggunakan teori2 ekonomi kapitalis yang memang dianut sebagian besar ekonomi kita yang sekolah di negeri2 kapitalis yang memang menurut saya kurang tepat.
Mudah2an negeri ini bisa segera instropeksi bahwa pembangunan harus dimulai dengan memberdayakan rakyat dibawah agar mereka ikut berpartisipasi aktif tidak hanya sebagai obyek saja tetapi juga subyek.
Label: economic


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda