STRUGGLE - DINAMIC - EQUALITY - EGALITARY - SOCIAL - RELIGY - WELFARE - LEARN - ECONOMIC - USEFUL

Kamis, Januari 10, 2008

PENCARIAN KOMUNITAS

Di sepanjang jalan di Jakarta, ditelusuri masjid-masjid di dalamnya, di renungi bilik-biliknya, dicari kemana kaum mudanya dengan greget kegiatan-kegiatannya. Obrolan-obrolan dan diskusi – diskusi kecil antar individu yang berada di dalamnya tampak kurang ada yang mengakrabi antara satu dengan lainnya. Yang tampak adalah kesibukan pribadi – pribadi dengan komunikasi vertical antara sang makhluk dengan Sang Penciptanya dengan ritual-ritualnya. Dan ketika sudah selesai diskusi atau kajian tentang makna ritual – ritual tersebut dan penjabarannya atau penafsirannya dalam kehidupan sehari – hari yang ketika keluar akan kita hadapi dan kehidupan di luar inilah yang menyita banyak waktu kita yang memerlukan panduan dalam berjalan menyusurinya.
Sang Rabb memang tempat kita berlabuh ketika kepenatan-kepenatan duniawi dengan warna – warninya dengan segala tingkah laku manusianya. Sang Rabb hadir di bilik – bilik diri kita di tempat-tempat suci atau yang kita anggap suci, tetapi sering kita lupakan kehadiran-Nya di tempat aktivitas sehari – hari kita apakah itu di Pasar, di jalan, di Mall, di tempat kerja kita, di dalam aktivitas social kita kita cabut keberadaannya dan akan dimunculkan kembali ketika waktunya tiba. Memang sholat lima waktu yang diperintahkan itu mempunyai banyak kemanfaatan, dimana ditengah – tengah kesibukan atau ketidaksibukan waktu – waktu kita Allah ingatkan dalam waktu – waktu itu apakah itu pagi – pagi ketika kita belum mulai aktivitas dengan Subuhnya, siang hari ketika kerjaan atau aktivitas sedang padat-padatnya dengan dzuhurnya, sore hari ketika kita akan kerja kita akan beranjak selesai dengan Asharnya, malam ketika kita akan istirahat dengan Maghrib dan Isya’nya senantiasa kita diingatkan dengan penentuan waktu-waktu yang telah ditetapkan.
Tetapi pencarian obrolan-obrolan kecil antar pencari keteduhan, ketenangan, keakraban dengan hubungan vertical yang telah dijalani susah sekali ditemukan, apakah karena kesibukan-kesibukan yang segera menanti ataukah karena penafsiran ayat ketika habis ingat untuk segera bertebaran di muka bumi untuk mencari rejeki-Nya atau memang suasana kampong / desa yang lebih santai, lebih dinikmati, lebih akrab dibandingkan dengan kota yang penuh dengan kepentingan – kepentingan individu yang mengalahkan kepentingan bersama antar individu yang berada di dalamnya sehingga yang seperti kita lihat ketika dijalan kita saling serobot, ketika sama – sama mencari sebagian rejekinya saling mengalahkan dan kurang berbagi, ketika bikin rumah di sudut – sudut kota jalan – jalannya berliku-liku mengikuti pribadi – pribadi pemiliknya. Tatanan hubungan vertical dengan berbagai aturan yang berada di dalamnya dan makna yang dalam sepertinya tidak tercermin dalam kehidupan sehari – hari.

Ataukah memang hamba yang dlaif ini tidak bisa berbaur, kurang mencari, kurang aktif ataukah memang berbeda konsep dari umumnya masyarakat sehingga seperti manusia asing ditengah komunitas besar atau kecil yang melingkupinya, dan kemudian ikut larut dalam gelombang globalisasi, riuh dunia, dan menghindar dari permasalahan – permasalahan yang ada di dalam masyarakat yang penuh kebuntuan, kejumudan, atau akhirnya berakhir dalam kebingungan dan tersesat di jalan yang gelap dan sunyi tanpa ada orang yang mengetahui. Seperti yang dialami dari sang penerjemah Qur’an dalam bahasa Inggris Yusuf Ali yang di masyarakat intelektual keagamaan diakui keberadaannya, tetapi dalam kehidupannya dalam berkeluarga maupun pribadi gagal dan berakhir di lorong jalan gelap di sudut kota Negara Inggris Raya. Sepertinya menjadi menara gading yang susah mengekspresikan dan mengkomunikasikan dengan sekitarnya, tidak mampu membahasakan dan hanya dapat dipahami diri sendiri. Masih Resah Gelisah tanpa mampu berbuat lebih bagi diri dan lingkungan tidak menjadi salah atu agent of change atau problem solver malahan menjadi duri onak dan trouble maker. Adakah rekan atau mungkin komunitas yang mampu menjawab dan mewujudkan gairah atau ghirah ini.........?

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda