KAUM URBAN
Ketika masyarakat daerah pada berduyun-duyun untuk merubah nasib di perkotaan apakah itu untuk sekolah yang lebih maju atau untuk mengadu nasib mencari pekerjaan dan bekerja.
Orang daerah beranggapan bahwa daerah kota itu merupakan sumber yang gampang untuk meraih uang dengan cepat asal apapun pekerjaan yang ada itu mereka mau. Dengan bekal seadanya mereka menyerbu ke kota ada yang bekerja di kantoran, militer, berdagang, buruh, pembantu rumah tangga, pelayan toko, pelayan rumah makan dll. Daerah-daerah tandus seperti Gunung Kidul, Blora, Wonogiri, Pacitan, Madura ataupun daerah yang gersang sudah tidak mengherankan mereka akan merantau ke daerah lain karena di daerahnya untuk maju sangatlah tidak mungkin kiranya, tetapi sekarang tidak hanya masyarakat di daerah yang tandus saja yang menyerbu kota, masyarakat dari daerah yang suburpun berduyun-duyun ke kota karena hasil dari pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan mereka di desa seringkali tertimpa bencana ataupun malahan tekor karena ulah para pedagang dan juga pejabat yang justru mendatangkan banyak barang-barang impor dari negara lain yg menyebabkan turunnya harga produk di salah satu sisi, dan naiknya ongkos produksi seperti pupuk yang bahannya impor yang terus naik dan menekan keuntungan yang mereka peroleh coba lihat daerah Indramayu, Karawang, Tasikmalaya yang dulunya adalah daerah-daerah lumbung padi atau pertanian kita lihat kawasan subur mereka banyak berubah menjadi kawasan industri dengan segala polusi dan pencemarannya.
Potensi daerah yang seharusnya tergarap dengan baik dan di dukung dan dikembangkan menjadi mati karena pemerintahpun membuat kebijakan yang mematikan mereka dengan politik dagangnya yang penting mendapat keuntungan sesaat dari bahan-bahan yang mereka impor dan juga pinjaman-pinjaman dana asing dengan dalih pemberdayaan masyarakat padahal hal ini bukannya semakin memberdayakan tetapi membuat ketergantungan masyarakat kepada pemerintah semakin lengket dan tentunya ada kongkalikong diantara para elit dunia (IMF, WB) dan pemerintah pusat, daerah maupun para pengurus KUD sebagai ujung tombak ikut terpolitisasi berkorupsi dana pinjaman ini.
KAUM DESA MENYERBU KOTA inilah potret dari masyarakat dunia ketiga yang masih yakin bahwa kota adalah sumber harapan untuk perubahan yang lebih baik.
Dilain pihak masyarakat pribumi yang berada di kota dengan segala cara juga berupaya untuk tetap bertahan hidup agar bisa eksis atau kalau tidak mereka akan tersingkir. Banyak kejadian bahwa masyarakat pribumi kota malah tersingkir dari tanah kelahirannya dan beralih ke daerah pinggiran karena tak mampu bersaing. Berapa banyak orang betawi yang tersingkir dari Jakarta, berapa banyak kaum Dayak yang tersingkir dari hutannya oleh eksploitasi hutan dan alamnya, berapa banyak orang Papua yang miskin dan terisolir dan kehidupan mereka bahkan tak berubah dari jaman Purba dengan kotekanya padahal mereka hidup di tanah yang subur makmur dan berlimpah ruah emas di gunung-gunung mereka.
SEMUA PADA LARI KE KOTA BEREBUT MENJADI PENGUASA APAKAH ITU YORRIS, HERCULES, SBY, NURDIN HALID, dll.....
Adakah setitik teladan yang kembali dari tempat belajar mereka di perkotaan kembali ke desa dan daerah asalnya untuk membangun tanah kelahiran tercinta, mungkin ada satu contoh teladan Fadel Muhammad kembali ke kampung halamannya membangun dengan bakat dan skill yang telah ia peroleh di kota dulunya dan sekarang bersama kawan-kawan dan masyarakat di daerahnya ingin maju bersama.
Tapi hal ini juga jangan dijadikan seperti contoh lain yang para bekas pejabat pusat yang berbondong-bondong ke daerah untuk berkuasa kembali setelah di pusat mereka sudah tidak berguna dan tidak ada taringnya untuk menyerap kekuasaan dan kekayaan dari daerahnya.
Label: realism


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda