STRUGGLE - DINAMIC - EQUALITY - EGALITARY - SOCIAL - RELIGY - WELFARE - LEARN - ECONOMIC - USEFUL

Jumat, Mei 02, 2008

MAY DAY

Kemarin tanggal 01 Mei diperingati sebagai hari buruh / tenaga kerja kok pakai buruh sehingga ini membuat gap antara white & gray SDM yang terkotak-kotak dan seolah tidak ada kerjasama dan akibat yang ditanggungnya. Mungkin saja para pekerja kantoran kurang terasa akibat dari kebijakan-kebijakan yang terjadi padahal banyak juga yang nasibnya sama dengan yg gray.

Yang disuarakan adalah menentang praktek kerja kontrak, outsourcing yang sejatinya adalah perlindungan terhadap karyawan sangat kurang dan tentu saja tingkat kesejahteraan pun kurang memadai. Perusahaan hanya ada imbal balik apa yang diberikan tenaga kerja maka segitu juga imbalan yang dia peroleh. Tuntutan penurunan harga kepada pemerintah apalagi hal yang sangat mustahil, pemerintah saja sangat bingung karena kemunafikannya sendiri mendukung program free trade dan juga membuat patokan pada nilai dollar sehingga beban yang ditanggung akibat kenaikan BBM yang mencapai 120 dollar per barel membikin pusing kepala dengan berbagai program yang telah dan akan dilakukan apakah itu konversi minyak ke gas, konversi bahan bakar minyak ke Batubara untuk pembangkit2 listrik PLN, proyek biofuel dsb.

Dari dulu pernah disuarakan oleh berbagai kalangan yang menyerukan betapa korupnya bidang pertambangan oleh BP MIgas ataupun Pertamina dengan pemborosan cost recovery yang selalu meningkat tetapi produksi minyak yang ditargetkan oleh pemerintah saja tidak tercapai. Hal ini kurang adanya pressure dari pemerintah terhadap BUMNnya yang kurang mencapai target dengan punishment apakah itu dengan penggantian Dewan Direksinya. Tapi apa daya sekarang ini memang terjadi peralihan penjajahan dari bangsa asing istilahnya Kompeni (VOC) berganti dengan BUMN-BUMN Korup yang bekerjasama dengan kroni baik swasta nasional maupun asing yang menghabiskan dana negara.

Globalisasi yang seharusnya menjadikan kita meningkatkan daya saing, tetapi yang terjadi adalah persaingan perebutan porsi kue pembangunan diantara anak-anak negeri dengan melacurkan diri dan menjual asset-asset apakah itu SDA maupun SDM-SDMnya.
Supreme mortege yang bulan-bulan kemarin kurang digubris padahal sudah menjatuhkan berbagai corporate-corporate besar tetapi persiapan pemerintahan kita sangat kurang dalam mengantisipasi dampak perlambatan ekonomi di AS dan kroni-kroninya. Inilah akibat dari kurang percaya dirinya bangsa kita yang terlalu mendewakan sesuatu yang berbau asing, padahal orang asing saja berbondong-bondong menjarah dan menjadikan negara kita sebagai pangsa pasar yang sangat interaktif dengan kebodohan-kebodohan yang seolah kita tidak tahu bahwa diri kita ini adalah sebagai sekrup dari globalisasi.

Kita tidak sanggup menjadi tuan rumah di negeri sendiri, apakah itu tentang pengelolaan SDAnya, SDM-nya maupun pangsa pasar yang begitu besar yang menggiurkan bangsa-bangsa lain dengan berbagai upaya. Invisible hand (Adam Smith& David Ricardo) kembali menelan korban dan kita tidak terasa tetapi merasakan akibatnya.


SELAMAT KITA SEBAGAI BANGSA BURUH YANG TIDAK MERASA

Label:

Kamis, November 29, 2007

RESTRUKTURISASI

Tadi ada pembicaraan dengan bos setelah ketemu customer dari sebuah perusahaan MNC di bidang Telekomunikasi di Indonesia mengenai kondisi dan perubahan yang terjadi setelah merger kemarin.
Istilah ini biasa kita dengar atau baca dalam koran-koran atau majalah juga televisi. Kalau dalam ekonomi istilah ini sering dikaitkan dengan suatu upaya untuk perbaikan dari suatu kondisi yang belum memuaskan suatu tujuan. Diperlukan langkah-langkah untuk restrukturisasi ini dengan melihat permasalahan yang ada kemudian diteliti dan akhirnya diambil keputusan untuk melakukan program restrukturisasi ini.

Kalau dalam perusahaan biasanya ada dua langkah yang dilakukan oleh manajemen untuk upaya perbaikan perusahaan untuk mencapai tujuan yang diinginkan yaitu likuidasi atau penutupan karena dirasa sudah tidak diperbaiki atau dengan merger dengan perusahaan lain dimana dari dua perusahaan yang bergabung tersebut saling memiliki kelebihan dan ketika secara hitungan menguntungkan maka proses ini akan dilakukan. Salah satu kasus adalah bank mandiri adalah proses merger dari beberapa bank pemerintah yang melebur menjadi satu menjadi satu bank yang besar untuk menutupi kelemahan bank-bank yang kurang sehat.

Proses restrukturisasi ini membutuhkan dana untuk penyehatan dan juga tentunya akan mengubah suatu perusahaan secara fundamental apakah dari tingkat manajemen atau bahkan penutupan-penutupan sub usaha yang kurang menguntungkan. Salah satu implikasi dari program ini adalah efisiensi biaya dan tentunya pengurangan SDM-SDM atau PHK bahasa kasarnya atau melakukan pensiun dini terhadap karyawannya dan menerapkan / menawarkan kontrak baru kepada karyawannya. Kemudian akibat dari penggabungan ini tentunya karena kedua perusahaan tersebut memiliki kultur yang berbeda seringkali terjadi persaingan antar perusahaan yang merger ini dari SDM-SDMnya dan bahkan sampai pada tingkat menjatuhkan agar program yang mereka tawarkan ke level manajemen diterima, mana yang kuat bahkan sampai menjilat maka ialah yang menang dalam kompetisi ini.

Pernah ada cerita dari kawan adanya merger dari 2 perusahaan farmasi di Indonesia yaitu Kalbe dan Dankos dimana ada persaingan yg akhirnya menjatuhkan perusahaan lainnya dan tentunya produk yang dimiliki oleh perusahan yang bermerger tersebut. Ini jaman global yang kuat maka dia yang menang, yang punya kapital / modal tetap survive dan terus maju, ini tidak terpikirkan oleh kita karena kita mungkin beranggapan kita sudah berada pada perusahaan MNC yang comfort dan stabil secara manajemen tetapi kalau kita perhatikan dengan semakin maju dan perubahan - perubahan kondisi global para CEO perusahaan-perusahaan tersebut melakukan upaya ini, lihat saja Sony dengan Ericcson, Nokia dengan Siemens, BenQ dengan Siemens, Archelor Mittal sang raja baja mengakuisisi berbagai perusahaan baja di dunia.

MORE GLOBAL, LOST BORDER, FAST CHANGE ......

Label:

Selasa, November 27, 2007

OUTSOURCING & KONTRAK

Kapitalis semakin merambah dan menjerat sendi-sendi perekonomian kita, karena demi efisiensi dan keuntungan faktor manusia sebagai salah satu faktor produksi adalah yg paling gampang untuk ditekan. Perasaan, hati dan nurani tidak bisa menjadi pertimbangan dalam suatu pengambilan keputusan, sehingga keputusan yang bisa menjadikan keuntunganlah yang harus diambil.

Sistem outsourching, sistem kontrak menjadi alat yg paling mudah bagi suatu perusahaan untuk mengendalikan SDM yang dia perlukan dan suatu saat ketika tidak membutuhkan ada alasan yg mudah untuk mengambil keputusan tanpa melihat apakah anak, istrinya membutuhkan makan untuk survive hidupnya. Peraturan yang samar dan kurang jelas memang dibikin begitu, dan sistem ini sudah common di perusahaan-perusahaan di negara kita.

Label:

Rabu, November 21, 2007

TROUBLE TRADE

Our discuss with old friend mengenai prospek usaha di Indonesia selama dia bekerja di industri ekspor mebel yang nilai sales per tahunnya 14 milyar mereka harus berjuang utk mencari pasar sendiri, memenuhi kebutuhan modal sendiri dan tentunya mengatur agar perusahaannya tetap eksis.

Untuk mencari pasar karena faktor keamanan yg orang barat masih trauma dengan kejadian 911 yg lalu dan juga bom bali menimbulkan keengganan utk datang ke negeri tercinta ini. Untuk mengatasi hal tersebut akhirnya dengan modal nekat kawan2 kita ini berangkat dengan modal sendiri ikut pameran ke negeri2 yg memiliki potensi pasar baik di Eropa, Singapura, maupun Timur Tengah. Dukungan pemerintah atas kawan2 kita ini ketika tiba di kawasan2 tersebut kurang ada perhatian dari Konjen/Atase Perdagangan kita disana, hal ini sangat berbeda dengan China atau Vietnam, mereka sangat membantu pengusaha yg datang ke negara2 tsb dan memfasilitasi pertemuan bisnis dg rekan2 yg mungkin bisa mensukseskan misi dagang mereka yang akhirnya akan menambah devisa negara. Sungguh ironis pejabat kita memang bukannya bekerja untuk melayani tetapi harus dilayani dan kalau perlu mencari untung dan ambil kesempatan untuk ikut menjadi makelar dagang istilahnya.

Dari segi permodalanpun karena lemahnya dari segi jaminan, ataupun birokrasi yang sgt sulit untuk urusan kredit di negeri kita dikarenakan ketakutan tingkat NPL yg tinggi di masa-masa resesi ekonomi yg lalu sehingga perbankan kita menjaga dan sangat hati-hati untuk mengucurkan kreditnya ke sektor riil yang sangat membutuhkan dukungan dari institusi ini.
Bahkan yg terjadi sekarang adalah kelebihan likuditas / dana pihak ketiga dan cenderung mencari amanya saja dengan memasukkan dana mereka ke instrumen SBI yg sangat memberatkan negara dimana harus mengeluarkan bunga utk dana2 tsb.

Iklim yang kurang kondusif dari negara kita terutama dari birokrasi inilah yg sebenarnya membebani negara kita sendiri, insentif2 kepada para pengusaha yg kreatif ini yang membantu negara mendapatkan devisa, mengurangi pengangguran sangat kurang sekali.

Untungnya para pengusaha2 kita tidak mau menyerah dg keadaan ini walau harus berjibaku agar tetap hidup dan eksis dan menjadi orang yang berguna bagi dirinya sendiri, orang lain, masyarakat dan negara yang tidak merasa dibantu oleh kehadiran mereka. Bahkan lewat media internet beberapa pengusaha menjalin dan mengembangkan jiwa wirausaha lewat komunitas tangan diatas.

BRAVO UKM ......

Label:

Sabtu, November 10, 2007

BUDGETING

Riweh istilah orang Sunda kalo gak salah tulisannya. Sekali lagi tanpa perencanaan membuat orang bekerja secara sembrono, kurang hati-hati, grubyak-grubyuk, tanpa arah bahkan menyusahkan pada dirinya sendiri karena belum siap dan kalau dalam suatu tim kerja bisa menyusahkan orang sekitarnya juga.
Dalam dunia keuangan diperlukan adanya anggaran yang fungsinya sebagai alat perencanaan dan juga sebagai alat evaluasi. Dengan kita menyusun anggaran / budget apakah itu penerimaan ataupun pengeluaran kita mempunyai patokan apa yang harus dicapai, mana-mana yg bisa jadi prioritas, pos-pos mana yg bisa dikurangi. Anggaran bisa disusun berdasarkan histori data yang telah lalu dan dalam penyusunan bisa diforecast berapa penurunan atau kenaikannya melihat situasi dan kondisi yang ada.
Kalau kita lihat sekitar kita orang yg tidak menyusun budget mingguan-bulanan-triwulan-semesteran-tahunan-limatahunan atau periode waktu dia tidak memiliki tujuan yang jelas mau kemana arah dari suatu usaha atau penghidupannya.
Misal seorang ibu-ibu ketika setiap bulannya ia menerima uang dari suaminya maka langkah pertama yg harus dan segera dipersiapkannya adalah merencanakan pengeluaran-pengeluaran yang rutin dia keluarkan dan rencana kegiatan2 yg sudah terjadwalkan dan tentu saja mempertimbangkan space untuk kebutuhan lain2 yg seringkali muncul tanpa diminta. Dengan budget tersebut dia bisa membagi-bagi uang gaji suaminya untuk kebutuhan rumah tangga mereka agar semuanya bisa terpenuhi dan tidak terjadi minus di akhir bulan.
Sedang untuk suatu usaha anggaran sangat dibutuhkan agar tidak terjadi kerugian dalam usaha tersebut. Misal dalam perencanaan suatu proyek kita bisa mencalculate berapa besar sales yg akan didapat, kemudian berapa dia harus mengeluarkan biaya atau menekannya agar suatu pekerjaan bisa menghasilkan laba sesuai keinginan kita. Revenue - Cost = Gain/Loss, R > C

Setelah selesai bulan/periode anggaran perlu direview kembali berapa banyak uang yg kita punya/sales yg kita dapat dan berapa cost yg telah dikeluarkan, dari situ akan kita ketahui pos-pos apa yang harus ditekan, atau sales / pendapatan yang perlu ditingkatkan.

Selamat mencoba ...

Label:

Kamis, Agustus 16, 2007

OPTIMISME TIM EKONOMI JEBOL

Beberapa saat 1 atau 2 bulan yg lalu saat banyak dana asing masuk ke Indonesia banyak para pengamat yang melihat fenomena hot money ini sebagai sesuatu yang harus diperhatikan. Tetapi saat itu juga tim kabinet ekonomi optimis fundamental perekonomian kita sudah lumayan kuat jadi jangan terlalu ditakutkan.
Sekarang ketika terjadi resesi atau gejolak di pasar perumahan Amerika Serikat ternyata berdampak di berbagai belahan ekonomi dunia, Uni Eropa dan Jepang saja menggelontorkan uang untuk menambah likuiditas di pasar uangnya, beberapa Pasar Saham dunia juga anjlok tentu saja di negara kita juga mengalaminya baik di pasar saham maupun pasar uang.
Kurs kita jatuh begitu juga nilai indeks saham gabungan juga mengalami kejatuhan yang paling besar diantara negara-negara di Asia.

Prediksi yang optimis dari tim ekonomi kita yang memang orang ahli ekonomi makro dari UGM maupun UI Pak Boediono dan Sri Mulyani, sektor2 unit usaha kecil dan menengah yang sekarat, daya beli masyarakat kecil yang turun, stabilitas harga minyak goreng, telur, minyak tanah dan konversi gas yang belum mengenai sasaran di tingkat implementasinya.
Memang para ahli kita itu secara hitung2an prediksi dengan forecastingnya mengukur sesuatu apakah itu manusia hanya diukur sebagai angka-angka yang tidak punya hati nurani dan perasaan.
Saya sebagai finance di perusahaan saja kalau sedang nyiapin proposal proyek faktor yang memang gampang di tekan adalah faktor tenaga kerja sedang faktor yang lain fixed, sebenarnya hal ini menjadi pikiran saya juga, tapi mau bagaimana lagi memang itung2an angka global, bermain angka, prosentase tambah sana kurang sini, padahal yang terlibat nantinya dalam suatu proyek itu imbasnya ke banyak orang ribuan bahkan mungkin ratusan ribu atau jutaan. Itung2an inipun bisa disiapkan dalam waktu yang singkat saja, tetapi dampaknya bisa tahunan dan jangka panjang.
Apalagi negara yang dampaknya lebih besar lagi bagi seluruh rakyat Indonesia, apakah permainan2 angka di kantor diterangi lampu yang terang, dengan suhu udara yang nyaman, duduk di kursi empuk kurang untuk turun ke lapangan dengan trial and error secara acak di beberapa daerah kemudian ketika berhasil baru diterapkan ke daerah lain. Mungkin karena ingin cepat, ingin serba instan, dan hasilnya bisa dilihat dengan segera mereka ingin membuktikan kepada atasanya apakah itu menterinya atau itu presidennya ataupun menggunakan teori2 ekonomi kapitalis yang memang dianut sebagian besar ekonomi kita yang sekolah di negeri2 kapitalis yang memang menurut saya kurang tepat.

Mudah2an negeri ini bisa segera instropeksi bahwa pembangunan harus dimulai dengan memberdayakan rakyat dibawah agar mereka ikut berpartisipasi aktif tidak hanya sebagai obyek saja tetapi juga subyek.

Label:

Jumat, Agustus 03, 2007

KAPITALIS BERAKSI

Kemarin habis meeting semua rekan kantor dengan bos, ternyata rencana pengangkutan batubara/nikel yang sebenarnya ingin kita kelola sendiri ternyata kandas, karena sang owner membentuk company untuk menangani pekerjaan ini. Salah satu kendala yang mungkin menjadi pertimbangan owner adalah kemampuan finansial perusahaan kita yang mungkin mereka lihat belum mampu untuk menangani project sebesar ini.

Kasus kedua kemarin denger dari staff operasional terjadi demo di cikarang di gudang customer mengenai status kepegawaian. Sudah umum dewasa ini untuk perekrutan tenaga kerja atau keperluan SDM di sub kontrakan dengan perusahaan outsourching, sehingga company ketika membutuhkan SDM tinggal cari dari outsourcing ini dan tentu saja tanggung jawab company hanya kepada outsource ini saja tidak sampai ke employee, dan tentunya daya tawar employee sangatlah lemah dan setiap selesai kontrak harus berpikir dan berdoa semoga diperpanjang kontraknya. Hal ini disebabkan sistem ini sekali lagi demi kepentingan kapital yang ingin memutus rantai kepegawaian dengan mudah dan ketika membutuhkan SDM lain tinnggal cari lagi yang baru tentunya dengan cost yang rendah dengan kualitas yang bagus. Kalo di perusahaan MNC ataupun konvensional yang tidak berlandaskan agama itu mungkin wajar, karena pemikiran mereka adalah profit oriented mendapat keuntungan sebesar-besarnya dan menekan cost seminim mungkin mereka keluarkan. Jadi ibarat manusia adalah seperti salah satu faktor produksi selain kapital, mesin, manusia tidak dilihat dari sisi kemanusiaannya tapi cenderung disamakan dengan mesin istilahnya. Lihatlah karyawan di shift mengikuti pola kerja mesin, demi pasar, dan tentunya demi kepentingan bisnis yang akhir-akhirnya adalah uang. Inilah jahatnya free fight liberalism yang didengungkan para pencetus capitalism. Coba tengok kembali teori-teori ekonomi Adam Smith, David Ricardo, dan temen2 lainnya yang memang mengukur manusia juga dengan angka-angka, padahal selain secara fisik manusia juga mempunyai akal pikiran dan hati nurani, tetapi dalam hal ini semua itu diabaikan. Inilah semangat etika protestan yang melahirkan semangat kebebasan bagi semua orang tetapi juga dampaknya menghilangkan sisi kemanusiaannya.

Kasus yang lain adalah kemarin pas pulang ketemu temen yang bekerja di lembaga pendidikan yang notabene membawa Islam sebagai suatu simbol dan mungkin menjadi alat jual yang ampuh untuk meraih pasar muslim yang memang potensial, sudah bekerja 3 tahun tapi sampai sekarangpun masih kontrak dan tidak ada kejelasan status kepegawaiannya apakah nantinya menjadi capeg apalagi sampai berpikir menjadi tetap. IT'S BULL SHIT

Trus kasus selanjutnya pas ngobrol dengan bos, ada salah satu staff baru yang juga bekerja di sebuah lembaga pendidikan yayasan Islam juga begitu ketika berjuang untuk membangun pendidikan Islam dengan tujuan mendidik generasi penerus yang memiliki jiwa keIslaman dan tentunya bertaqwa kepada Allah, tetapi ketika sudah mulai besar dan mendapatkan dana yang besar lagi-lagi kalau sudah urusan money, idealisme tersebut terkalahkan dan menjadikan kita terbuai dan terlena dengan materi. Uang-uang tersebut ternyata lari kemana dan sebagai salah satu generasi muda Islam yang mungkin sudah melihat kebusukan sistem yang juga menjalar sampai akar ke lembaga-lembaga Islam yang tercemari semangat kapitalisme ini yang harus meninggalkan dengan perasaan kecewa.

Begitulah seharusnya semangat-semangat muda yang ingin bersih, ingin berusaha menyejahterakan masyarakat banyak, menjadi rahmatan lil alamin banyak sekali ternoda oleh godaan-godaan dunia yang memang menyesatkan. Definisi ikhlas menjadi kabur, agama dirusak oleh oknum-oknum yang berusaha memperoleh keuntungan dunia dengan memanfaatkannya.

SEKARANG YANG PENTING BAGI KITA ADALAH JANGAN BERHARAP TERLALU BANYAK TERHADAP KAPITALIS YANG MEMANG TIDAK MEMANUSIAKAN MANUSIA, TETAPLAH BERUSAHA, BEKERJA SEBAIK-BAIKNYA, TERUS BERKARYA DAN MAJU TERUS HANYA DEMI RIDHO ILAHI.

Label:

Kamis, Agustus 02, 2007

DAS DAMN KAPITAL

Sekali lagi banyak korban dari dunia kapitalis ini, semua serba dinilai dengan uang dan materi yang kita miliki. Diri ini dihargai kalau kita mempunyai materi yang lumayan atau kita mampu menunjukkan materi yang kita miliki, bukannya prestasi atau hasil karya yang kita punya.
Coba kita lihat kita dibuai dengan cara hidup yang katanya modern yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan tapi karena lifestyle dan keadaan disekitar kita itu kita terbawa dan terseret arusnya.
Misal kita sekarang begitu sibuknya mencari acara - acara untuk mengisi sedikit waktu luang atau bahkan membuang banyak waktu kita seperti mengikuti perkembangan film terbaru, terpesona oleh perubahan teknologi yang terus berubah sedang kita hanya menjadi pasar saja dan tidak menjadi, kita dimanjakan oleh hiburan-hiburan apakah itu makanan, minuman, tontonan, olahraga sehingga kita melupakan kesadaran kita akan orang di sekitar kita.

Berapa banyak tenaga, pikiran dan dana yang kita miliki untuk makan, traveling, nonton TV, pakaian, perangkat teknologi yang membuat kita keblinger dibandingkan dengan yang sebenarnya kita butuhkan. Kita hanya butuh sepiring nasi semua sama, apakah itu dengan nasi uduk senilai 2.000 di gang2 atau di tempat makan lain senilai 25 ribu akhir-akhirnya pun akan sama. Tempat tinggalpun semestinya secukupnya bisa buat berteduh, buat mengasuh dan membesarkan anak, beribadah, menempatkan sedikit harta kita tapi coba lihat karena rakus atau serakahnya berapa banyak kawasan yang dimiliki oleh hanya beberapa gelintir orang saja sedangkan yang lainnya kalau perlu ngontrak.

SEKOLAH SEMAKIN MAHAL - SUSU MAHAL - BERAS MAHAL - MINYAK TANAH KOSONG - GAS KOSONG
Orang lebih mementingkan membeli TV, HP, DVD, Motor, Mobil dan perangkat2 modern lainnya daripada untuk menyekolahkan anak atau untuk menambah pengetahuan .

Kita mengumpulkan uang untuk membeli barang-barang Dunia Barat / MNC dan itu membuat mereka semakin kaya, dan kita cuma jadi pasar saja. Lihat UMKM kita yang kurang banget dukungan dari Pemerintah, atau dari kita sendiri sebagai pasar yang potensial, untuk mencari dana susahnya minta ampun, untuk menambah pengetahuan perdagangan semua serba bayar, untuk perijinan harus bayar sana sini, pajak yang menjerat dan masih banyak rintangan-rintangan yang harus dilalui para teman-teman UMKM kita, survive hidup sedikit, dan hanya mampu mampir saja.

Kita lebih percaya produk luar daripada produk kita sendiri, dan penyakit ini telah menyerang seluruh kalangan dari atas sampai akar rumput sekalipun. Dan penyakit produsen / penghasil kita bukannya memperbaiki dan meningkatkan kualitas tapi masih berpikiran jangka pendek yaitu menggunakan aji mumpung dan akhirnya pasar domestik yang seharusnya menjadi salah satu pendukung pemasukan mereka menjadi tidak percaya dan merugikan, misal mengurangi takaran, mengurangi kualitas, mukul harga.

Inikah hasil dari dunia modern yang katanya ingin menyejahterakan orang banyak, ternyata coba anda fikirkan sendiri.

Label:

Jumat, Juni 22, 2007

GLOBALISASI&FREE TRADE dan Dampaknya

Pascal Lamy bos WTO said akui globalisasi dan free trade disamping beri dampak positif dengan berhasilnya ekonomi , India dan Vietnam juga ada dampak buruk terutama negara-negara miskin yang kurang siap untuk hadapinya. Karena kurang pendidikan, kemiskinan yang sistematis, menyebabkan banyak warga dunia yang tetap termiskinkan dan tak terangkat mengikuti kemajuan.
Ketika orang sudah bicara internet, video streaming, 3 G, ngomong soal McD, Spiderman, Pesta pora makan, entertain sana-sini atau yang lainnya di belahan dunia atau pelosok sana orang ada yang belum pakai celana, ada yang masih bertransaksi dengan barter, belum tersentuh peradaban, atau mungkin saja memang ingin mempertahankan tradisi yang ada dan bahkan orang yang kelaparan, gizi buruk masih menimpa di sekitar kita.
Sebagai contoh di kantor karena pendidikan yang bervariasi untuk transaksi di ATM saja belum mampu, menggunakan telepon / HP masih kagok, cara berpikir yang masih pendek, atau memang barang-barang tersebut tidak diperlukan untuk kehidupannya selama ini.
Atau pernah denger juga cerita seorang sopir pegang HP tapi tidak bisa SMS cuma bisa terima dan panggil telepon saja.

SUNGGUH IRONIS

Label:

Senin, Mei 14, 2007

KONSUMTIF LAGI

Ini benar-benar ironis, lama kita mencari modal untuk pekerjaan dari berbagai lembaga keuangan untuk pekerjaan2 yang memang perusahaan kami ini padat modal susahnya minta ampun.
Tapi untuk urusan konsumtif seperti kredit mobil, rumah, kartu kredit atau apa saja yang punya pola untuk konsumsi cair lagi, cair lagi.
Sudah 2 motor, 1 panther, 1 pick up, 1 truck, 1 toyota vios dan sekarang BMW gak ada 2 minggu atau mungkin efektifnya cuma seminggu langsung turun tuh kendaraan buat kantor. Trus ada temen bos pinjem perusahaan untuk cari kredit rumah ke berbagai bank dan sekarang masih proses, trus temen akhwat juga baru sibuk ngejar target aplikasi kartu kredit di Perusahaanya tempat dia kerja so what gitu lho.....
Buat ngerjain kerjaan dengan modal PO, Pengalaman Kerja, ternyata belum cukup harus ada jaminan yang mungkin bisa mencover nilai kredit yang kita ambil.
Memang kurang ajar perbankan negeri ini, sebenarnya mau dibawa kemana sih, takut NPLnya besar, minta keringanan Pajak kemarin baca koran BCA tidak bayar pajak 2 tahun dengan acc dari Dirjen Pajak yang lalu sebelum Darmin Nasution.

Label: