MAY DAY
Kemarin tanggal 01 Mei diperingati sebagai hari buruh / tenaga kerja kok pakai buruh sehingga ini membuat gap antara white & gray SDM yang terkotak-kotak dan seolah tidak ada kerjasama dan akibat yang ditanggungnya. Mungkin saja para pekerja kantoran kurang terasa akibat dari kebijakan-kebijakan yang terjadi padahal banyak juga yang nasibnya sama dengan yg gray.
Yang disuarakan adalah menentang praktek kerja kontrak, outsourcing yang sejatinya adalah perlindungan terhadap karyawan sangat kurang dan tentu saja tingkat kesejahteraan pun kurang memadai. Perusahaan hanya ada imbal balik apa yang diberikan tenaga kerja maka segitu juga imbalan yang dia peroleh. Tuntutan penurunan harga kepada pemerintah apalagi hal yang sangat mustahil, pemerintah saja sangat bingung karena kemunafikannya sendiri mendukung program free trade dan juga membuat patokan pada nilai dollar sehingga beban yang ditanggung akibat kenaikan BBM yang mencapai 120 dollar per barel membikin pusing kepala dengan berbagai program yang telah dan akan dilakukan apakah itu konversi minyak ke gas, konversi bahan bakar minyak ke Batubara untuk pembangkit2 listrik PLN, proyek biofuel dsb.
Dari dulu pernah disuarakan oleh berbagai kalangan yang menyerukan betapa korupnya bidang pertambangan oleh BP MIgas ataupun Pertamina dengan pemborosan cost recovery yang selalu meningkat tetapi produksi minyak yang ditargetkan oleh pemerintah saja tidak tercapai. Hal ini kurang adanya pressure dari pemerintah terhadap BUMNnya yang kurang mencapai target dengan punishment apakah itu dengan penggantian Dewan Direksinya. Tapi apa daya sekarang ini memang terjadi peralihan penjajahan dari bangsa asing istilahnya Kompeni (VOC) berganti dengan BUMN-BUMN Korup yang bekerjasama dengan kroni baik swasta nasional maupun asing yang menghabiskan dana negara.
Globalisasi yang seharusnya menjadikan kita meningkatkan daya saing, tetapi yang terjadi adalah persaingan perebutan porsi kue pembangunan diantara anak-anak negeri dengan melacurkan diri dan menjual asset-asset apakah itu SDA maupun SDM-SDMnya.
Supreme mortege yang bulan-bulan kemarin kurang digubris padahal sudah menjatuhkan berbagai corporate-corporate besar tetapi persiapan pemerintahan kita sangat kurang dalam mengantisipasi dampak perlambatan ekonomi di AS dan kroni-kroninya. Inilah akibat dari kurang percaya dirinya bangsa kita yang terlalu mendewakan sesuatu yang berbau asing, padahal orang asing saja berbondong-bondong menjarah dan menjadikan negara kita sebagai pangsa pasar yang sangat interaktif dengan kebodohan-kebodohan yang seolah kita tidak tahu bahwa diri kita ini adalah sebagai sekrup dari globalisasi.
Kita tidak sanggup menjadi tuan rumah di negeri sendiri, apakah itu tentang pengelolaan SDAnya, SDM-nya maupun pangsa pasar yang begitu besar yang menggiurkan bangsa-bangsa lain dengan berbagai upaya. Invisible hand (Adam Smith& David Ricardo) kembali menelan korban dan kita tidak terasa tetapi merasakan akibatnya.
SELAMAT KITA SEBAGAI BANGSA BURUH YANG TIDAK MERASA
Label: economic


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda