KERAS DI KEHIDUPAN
Beberapa tahun yang lampau pernah discus dg temen kuliah ketika dia dulu pernah kerja di Jakarta, suatu pesannya adalah kita keras dengan orang atau kita yang akan dikerasi, kita yang nginjak orang atau kita yang akan diinjak.
Sekarang baru saya sadari ketika kerja kita benar-benar dan sungguh-sungguh sesuai dengan amanat, kewajiban dan sedapat mungkin berhasil dan berdaya guna bagi kepentingan semua orang, tetapi suatu saat kerja kita ini tidak dihargai dan bahkan dianggap angin lalu. Apakah watak orang yang hidup di Jakarta yang menjadikan seseorang harus cuek, tak acuh, sok gak tau, introvet, mementingkan diri sendiri, bekerja sesuai keinginan dia, mengambil hati orang lain, mengukur suatu pekerjaan dengan materi yang diterima sehingga menjadikan seseorang itu terbiasa dan akhirnya menjadi wataknya untuk menjadi bebal, gak punya malu dan tanpa ewuh pekewuh atau sak penak wudele dewe istilah bahasa jawane atau karena situasi dan kondisi yang menyebabkan dia memang harus berbuat demikian pingin menang sendiri, pingin kuasa, paling berjasa, tidak melihat kekurangan diri sendiri, menyalahkan orang lain dan akhirnya yang terjadi adalah mana yang kuat itulah yang mampu bertahan.
Disuruh yang satu mau karena ada tambahan imbalan, tapi ketika disuruh tanpa ada imbalan yang tidak terlihat tidak melakukan, bekerja seenaknya karena peraturan yang dibuat memang samar yang menyebabkan seseorang menjadi free, menginterpretasikan sesuai person masing-masing, kalau tidak dikerasin atau diomongkan di depan mata langsung ke orangnya tidak akan merasa, jadi harus ngomong langsung ke orangnya ditunjukkan kesalahannya ini, ini, dan ini bukan sekedar sindiran yang memang akan dianggap angin lalu saja.
Label: reality


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda