TELADAN
Orang tua bukan lagi teladan
Teladan sepertinya hanya menjadi isapan jempol saja dan mungkin legenda yang akan menjadi kisah-kisah dalam buku cerita yang akan dikenang oleh anak dan cucu kita.
Kisah ini diilhami dari seorang Satpam yang secara kedudukan mungkin dia sebagai pimpinan, secara keseharian yang dia nampakkan adalah kewibawaan dan juga sikap kesolehan dengan peci dan sarung yang dikenakan dan juga obrolan-obrolan agama yang dia tahu tentang kebenaran, aqidah, fikih-fikih yang mungkin pernah dia kaji atau mengaji di kampungnya dahulu.
Apakah karena suatu kebutuhan ataukah karena iklim di Jakarta ini apa-apa harus dihargai dengan materi yang lebih pasnya adalah duit membuat apa-apa yang pernah diomongkan tentang agama dan kebenaran menjadi hilang seketika. Image yang dibangun dengan simbolik-simbolik dan omongan sekian lama hilanglah sudah karena hanya masalah sepele yaitu duit.
Hal ini juga banyak dialami saudara-saudara kita, ketika kita coba ajak ngobrol tentang masalah keagamaan seolah-olah pendapat kita lah yang benar dan ngomongnya akan semangat sekali dan berbusa-busa. Tapi ketika kita lihat kesehariannya cobalah ketika ada suara adzan berbunyi ajakan suci untuk segera menunaikan suatu perintah yang sangat special diturunkan kepada semua Rasul ataupun ketika dihadapkan pada suatu permasalahan yang menyangkut masalah materi atau duitlah, akan kelihatan sekali bagaimana sebenarnya diri ini. Borok, busuk, kemunafikan – kemunafikan telah menjangkiti kita semua ketika uang sudah berbicara, kepentingan yang bicara maka akan lain ceritanya.
Inikah masyarakat agamis di negeri ini yang memahami arti agama secara dangkal yang hanya kelihatan di mata saja, bukan lagi diterapkan dalam nilai-nilai kehidupan sehari-hari kita.
Ketika ada ajaran sesat apakah itu Lia Aminudin, Al Qur’an Suci, Abu Musadeq atau lainnya mereka ikut berteriak lantang dan komentar macam-macam, tetapi apa yang mereka lakukan dikeseharian merekapun mungkin saya istilahkan membikin aliran baru atau ajaran baru untuk ngaji al Qur’an coba berapa banyak yang masih mengamalkan pegangan hidup ini, berapa banyak yang meninggalkan sholat Subuh yang memang sangat susah ini, sholat tidak lagi 5 waktu mungkin mereka buat hanya menjadi 4 atau 3 waktu saja dikarenakan kesibukan dan kemalasan mereka.
Atau bagaimana orang-orang tua kita mengajari kita untuk belajar menohok kawan, berkelit, mencari celah, korupsi, berebut kekuasaan, berebut harta, berebut wanita dll. Anak-anak muda ikut teracuni oleh virus –virus ini ketika mereka masuk ke dalam sistem yang busuk dan telah mendarah daging yang dikenalkan oleh leluhur kita yang bernama Ken Arok itu.
Impian tentang Ken Dedes yang cantik yaitu godaan tentang wanita, tentang sebuah kerajaan yaitu godaan berupa kekuasaan, tentang sebuah wilayah dan akhirnya materi yang akan didapat yaitu godaan tentang harta benda dunia. Semua itu memang kenikmatan atau kesenangan hidup yang boleh saja setiap orang meraihnya tetapi ya mbok yao istilah bahasa jawane carane itu lho, etika, moral, hokum jangan hanya jadi lips dan sesuatu yang dibuat-buat dan bisa dijadikan proyek dengan bualan yang muluk –muluk tetapi ketika pelaksanaan nol besar. Its Bull Shit
Hidup seolah-olah dibikin formal dan susah serba administrative, tersistem harus pake jalur ini pake jalur itu bukan jalur yang diajarkan oleh Allah kalau minta, berdoa yang langsung saja tanpa perantara, tanpa formalitas yang orang lain harus tahu yang bisa kita munajatkan setiap saat, setiap tempat. Memang manusia itu serba menyulitkan dirinya sendiri, kalau bisa dibikin susah mengapa harus dibikin gampang. Hanya umur yang banyak saja, tetapi contoh-contoh kebaikan, kebajikan sangat susah kita dapatkan.
Tujuan hidup utama sudah terlupakan dalam diri kita, kita sudah kehilangan akal dan logika yang dianugerahkan Allah kepada kita, telah kehilangan kesadaran atau hilang urat malu kita hanya untuk tujuan sementara saja. Silahkan menjadi cermin bagi diri-diri kita ini seberapa munafikkah kita, sayapun sangat sadar saya bukan manusia yang sempurna dan hanya bisa menulis dan ikut ngomong berbusa-busa juga.
SEMOGA KITA TERJAGA DARI PERBUATAN-PERBUATAN TERSEBUT
SELALU INGAT (DZIKR) – SADAR (FIKR)


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda