STRUGGLE - DINAMIC - EQUALITY - EGALITARY - SOCIAL - RELIGY - WELFARE - LEARN - ECONOMIC - USEFUL

Rabu, Juni 03, 2009

BERHALA BARU

Dengan kemajuan teknologi yang semakin hari semakin bisa dijangkau masyarakat banyak karena memang globalisasi ingin menciptakan produk-produk secara massa yang tujuannya menciptakan masyarakat yg konsumtif.

Di bilik-bilik kecil kontrakan di perkotaan kalau kita lihat berbagai produk elektronik sudah dimiliki apakah itu TV, DVD, HP sptnya menjadi barang yg wajib dimiliki di setiap kamar. Dari bangun pagi mereka akan segera menghidupkan TV untuk sekedar mendengar atau melihat berita pagi, kemudian ketika pulang kerja atau beraktivitas aneka produk itu akan segera mengisi bilik2 ruang itu dengan keriuh rendahan dari masing2 bilik dengan keinginan acaranya masing-masing.

Sepertinya produk2 itu menjadi sesuatu yang mengisi waktu-waktu kita dan kita tidak bisa lepas darinya. Coba saja dalam satu jam kita tidak bawa atau pegang HP rasanya ada sesuatu yang hilang dari diri kita. Atau coba kita tidak melihat atau mendengar TV atau radio dalam sehari bisa tidak, sepertinya adalah sesuatu hal yang mustahil, semua produk itu ternyata secara tidak kita sadari kita menjadi tergantung kepada mereka. Bahkan sampai-sampai kita tidurpun ditemani oleh TV yang tidak lagi kita tonton atau radio yang tidak lagi kita dengarkan.

Ruang dan waktu kita selalu diisi oleh produk-produk itu, dan rasanya keberadaan Tuhan bersama kita menjadi banyak tersisih dan hanya sedikit waktu yang kita sisihkan untuk Yang memberi kita hidup, Yang memberi rejeki kita, Yang Maha memberi segalanya buat semua keperluan kita, dzikir setiap saat setiap waktu sepertinya tergantikan oleh semua produk teknologi itu.

Mudah-mudahan kita bisa menghindari atau tidak terseret arus industrialisasi yang diciptakan dari paham sekulerasime yang berusaha memisahkan manusia dari Yang Menciptakannya. Kita bisa menggunakan produk-produk itu untuk kemanfaatan dan tidak terbuai dengannya. Semoga saja............. AMIIIIIIIIIIIIIN.

Label:

Kamis, Desember 06, 2007

Refleksi Last November

Berpikir sederhana biasa dengan kerja nyata hasil semoga menjadi luar biasa.
Berpikir terlalu global, terlalu banyak wacana, yang terjadi adalah banyak kegamangan dan akan terus bertambah terus wacana tersebut di dalam otak kita sehingga menjadi bebal. Mulai dari hal yang terkecil yang sederhana yang berasal atau berada di sekitar tetapi dengan aksi yang dilakukan dengan benar.


FENOMENA ANAK BANGSA

Tukang sampah, bersih-bersih bersms-an ria, ngepul asap di sela-sela istirahatnya dengan santainya walau keadaan hidup yang menghimpit dan badan penuh peluh dan kotorannya hasil yang didapat bukannya untuk prioritas keluarga tetapi kenapa kebutuhan-kebutuhan yang sebetulnya kurang penting malah dicover untuk keperluan-keperluan tersebut apakah karena untuk menghilangkan sedikit beban hidupnya ataukah karena salah prioritas dan mungkin sebagai suatu cara untuk menunjukkan suatu kepunyaannya ini lho saya punya atau bagaimana.

Yang kedua adalah fenomena anak-anak kecil yang berada di jalanan dan bergerombol nongkrong di mall-mall apakah karena rumah sudah tidak nyaman lagi buat mereka, atau karena ruang public tempat mereka bermain hilang diambil alih oleh kepentingan-kepentingan kaum dewasa dengan pengkomersialan dan penjualan asset-aset fasilitas social oleh oknum-oknum pejabat yang tidak berpikir akan kelangsungan generasi penerus yang membutuhkan suatu tempat untuk bersosialisasi dan bermain di masa kecilnya. Mereka membentuk genk-genk sekolah, komunitas-komunitas yang mampu mengembangkan kreativitas mereka, berkeliaran diatas motor-motor yang meraung-raung menambah gegap gempita dunia yang sudah terpolusi dan menimbulkan masalah-masalah baru karena tidak atau kurang adanya wadah yang menampung aspirasi, ide, kreativitas mereka.

Yang ketiga maraknya masjid-masjid di kampus dan Islamic centre dan sepinya kegiatan dan aktivitas di masjid-masjid kampong yang juga memerlukan uluran tangan. Para kaum muda Islam kita ini apakah karena adanya kesamaan umur, kepentingan, ataukah karena kaum tua di surau, langgar dan masjid yang kurang mengakomodir kepentingan mereka sehingga mereka mengeluarkan ekspresi dan kreativitas mereka di lingkungan kampus atau di Islamic Centre yang mampu mewadahi mereka. Karena jiwa muda yang ingin mobile dan berubah, berpikir, penuh dinamika menghadapi konservatisme para orang tua yang kurang memahami perubahan jaman yang semakin hari – semakin kompleks permasalahan dan krg mengikuti perkembangan gegar budaya di sekitar kita.

Surau-surau kampong mulai ditinggalkan menjadi sunyi senyap berganti hingar bingar aktivitas dakwah yang lebih keluar sedangkan permasalahan-permasalahan yang berada di dalamnya tidak selesai – selesai dan akhirnya terakumulasi menjadi menggunung. Sedangkan para aktivis kurang membumikan keilmuan yang mereka peroleh ke masyarakat luas dan cenderung menjadi eksklusif bagi para anggotanya dan menggaet kader-kader mudanya dengan meninggalkan para saudara-saudara kita yang sudah terjebak dan termakan gegar budaya dengan narkoba, baju seksi, kehidupan malam, dan akhirnya anak – anak yang terlepas perhatian ini menjadi generasi yang mencoba menunjukkan jatidiri dengan mengikuti trendsetter yang mereka saksikan, baca dan dengar dari media-media yang begitu gencar ngebom mereka.

Anak-anak gadis, ibu-ibu bersolek dan berlenggak-lenggok ria di kawasan public tanpa adanya perlindungan dari kaum lelaki sebagai penjaga dan pemegang amanah terhadap mereka. Coba kita perhatikan berapa banyak orang tua yang membiarkan ataupun malah bangga terhadap anaknya yang cenderung mengikuti gaya hidup yang modern yang biasanya berasal dari luar yang secara etika kurang enak dilihat dan membikin kaum lelaki menonton, menikmati dan bisa saja menyergap mereka setiap saat ada kesempatan dengan berbagai pelecehan apakah itu siulan, pandangan yang merendahkan, maupun tindakan yang berbau asusila. Coba lihat berapa banyak anak elit-elit agama, pak haji atau yang tahu agama yang berdandan, berpakaian kurang mengikuti ajaran agama atau minimal sopan saja ataupun sudah terlalu longgarnya ukuran suatu tatanan untuk mengakomodir perubahan lifestyle yang ada dan akhirnya ikut terjerumus, dan pola hidup yang kacau.

Kompas 01 December 2007 kolom Muh Sobary yang mengupas tentang generasi muda yang bisa berteriak tapi kurang memberikan solusi, atau generasi-generasi muda yang menuntut ikut dalam kekuasaan tetapi ketika diatas mereka ikut menikmati sistem yang korup dan busuk. Hanya sedikit yg bisa memberikan bukti yang nyata kepada masyarakatnya.

Wisdom ini terlahir diatas motor, terekam dalam hp hitam butut dalam perjalanan pulogadung - pramuka dibawah awan mendung yang menyelimuti langit jakarta ahad, 02 December Jam 12.an

Label:

Minggu, September 09, 2007

BERLEBIHAN & KEKOSONGAN

Semalam ada kejadian kecil yang agak membuat diri ini bisa instropeksi dan ambil manfaat darinya. Sepasang kekasih yang nggak tau kenapa tiba2 mojok di sudut depan toko mebel deket kost2an, sedangkan kami sedang kongkow2 sama satpam dan tukang es dan mie melihat kejadian itu dikira sepasang kekasih yang mabuk cinta, tetapi berselang lama ada 2 orang anak kecil yg disuruh beli aqua oleh mereka. Kami beranikan mendekatinya, ternyata sang cewek pingsan dan diambil langkah rescue untuk disadarin terlebih dahulu. Setelah sadar cewek teriak2 entah kenapa, bersama seorang ibu kita bawa ke kamar kostan agar ada ruang aman untuk penanganannya.
Di dalam kamar cewek tersebut teriak keras dan menangis sejadi2-nya dan membuat penghuni kostan lain kaget dan berkumpul. Dicoba dikasih air panas, dikendorkan ikat pinggang, dilepas sepatunya, dipijit dan diberi balsem agar agak mendingan, tetapi beberapa saat teriak lagi dan menangis, untunglah ada orang yg tau sang cewek kesurupan atau kerasukan sesuatu. Ketika ditangani dibuang sesuatu yg menempel di badannya e malah masuk lagi dan beberapa kali berlangsung terus begitu. Dipanggillah orang pinter di kampung belakang dan juga keluarga cewek untuk penanganan lebih lanjut, dan setelah ditangani oleh 2 orang pinter itu, sang cewek tersebut sadar dan terbengong dikerubuti orang banyak menanyakan apa yg terjadi terhadapnya. Akhirnya si cewek di bawa oleh keluarganya pulang kerumah dan selesailah sekelumit kejadian malam itu yg lumayan lama jam 8 sampai jam 11-an, kasihan tubuh yang kerasukan tersebut karena kalau tidak kuat dan berlangsung terus menerus bisa mengakibatkan badannya sakit.

Dari omongan ortunya yg datang belakangan ternyata memang baru ada permasalahan antar sepasang kekasih tersebut sehingga menyebabkan sang gadis ngambek, dan pikirannya kosong. Dengan adanya pikiran yang kosong tersebut menyebabkan setan atau jin memasuki jasad tersebut dan merasukinya sehingga menyebabkan badan yg terkena hilang kontrol dan diluar kesadaran sang pemilik.
Hikmah yg bisa diambil dari kejadian tersebut adalah :

1. Cinta itu adalah relatif jangan terlalu berlebihan krn suatu saat cinta akan sesuatu itu bisa berubah menjadi benci atau sebaliknya. Cinta sejati hanyalah milik Sang Maha Cinta, bahkan dalam suatu ayat dikatakan boleh jadi kita mencintai sesuatu padahal itu belum tentu baik bagi kita, dan boleh jadi kita membenci sesuatu tetapi hal tersebut membawa kebaikan bagi kita, Allah melarang pula kita dari sifat berlebih-lebihan/bermegah-megahan terhadap segala sesuatu, apalagi sampai tamak dan rakus.

2. Jagalah kehormatan wanita, ini harus dilakukan oleh sang wanita itu sendiri sebagai diri pribadi karena seringkali dia sendiri merendahkan atau mengeksploitasi dirinya mungkin untuk kepentingan tertentu, tetapi juga bisa dari pihak laki-laki harus juga jangan sampai memanfaatkan wanita untuk kepentingan dirinya, laki-laki harus berilmu dan berpengetahuan agar dia bisa menjaga, meluruskan, dan melindungi sang hawa dari berbagai kepentingan yang ingin memanfaatkan kewanitaan. Bacalah Qur'an dan Sunnah dan jangan menggunakan ayat-ayat tersebut untuk merendahkan atau memanfaatkan dengan terjemahan kontekstual demi kepentingan ego kita tetapi pelajari sampai asbabun nuzulnya. Dengan menggunakan ayat kita menjustice wanita ini tidak boleh begini tidak boleh begitu, yang ini dianggap membangkang yang itu dianggap dosa tetapi anggaplah wanita sebagai sosok yang harus diajak sharing dan partner kita dalam menuju tujuan hidup sejati menuju keridloannya.

3. Tetap tanamkan jiwa tolong menolong, bantu membantu antar sesama.

4. Bahwa diselain badan ini secara fisik lahiriah ada banyak di sekitar kita yang ghoib yg memang kita tidak mengetahuinya tetapi kita harus mengimaninya, bahwa ada Malaikat, ada jin, ada setan, kejadian masa lalu, masa depan dan itu ada. Jangan biarkan diri kosong, selalu ingat dan ingat, perbanyak dzikr di waktu senggang-senggang kita, jangan terlalu banyak menyendiri, melamun, tetapi isi dengan hal-hal yang berguna dan bermanfaat minimal buat diri kita sendiri. Kalau istilah agamanya dzikron katsiraa selalu ingat Allah disetiap saat dan setiap tempat tidak harus secara lesan tetapi harus secara sadar.

5. Kita hidup di dunia sementara masih ada step-step lain yang harus dilalui dan tujuan akhir adalah Sang Pemilik Sejati.

Label:

Rabu, Mei 09, 2007

MEMBANGUN KESADARAN

Allah mewahyukan perintah-perintah ibadah ternyata ada hikmah tersembunyi di baliknya antara lain:
1. Syahadat mengajarkan bahwa kita ini bersaksi secara sadar akan Tuhan yang wajib kita Imani, sembah yaitu hanya Allah saja dan sadar bahwa Nabi kita Muhammad sebagai utusannya dengan segala konsekuensinya, makanya kaum Quraisy yang mengetahui makna syahadat sungguh berat untuk menerimanya karena implikasinya akan mengubah derajat, kedudukan mereka.
1. Sholat yaitu mengajarkan kita kesadaran bahwa ada kekuatan lain Yang Maha Besar, dan Segala ke_Mahaan_Nya, mengajarkan kesetaraan, persamaan, cermin kehidupan manusia yang dimulai dari takbir (lahir) diakhiri dengan salam (kematian) berdiri - rukuk - sujud - salam.
2. Puasa mengajarkan kita menahan apa yang biasa kita perbuat tentunya yang tidak sesuai tuntutan agama apakah omongan, tingkah laku, cara berpikir secara sadar dijaga agar sesuai makna puasa yaitu menahan makanan, minuman, hawa nafsu baik omongan, pikiran, perbuatan dari segala hal yang membatalkannya.

And so on

Label:

Senin, April 23, 2007

H A R L A H 31 TAHUN DI BUMI

Refleksi 31th KU

Bismillahirrahmanirrahim


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Tiga puluh satu tahun sudah berlalu kulalui hidup ini dengan suka dan duka yang memang akan terus bersama kita dan pensikapannya pun sangat bermacam-macam. Naik turunnya psikologis dan keimananku menjadikan sikap kedewasaan untuk menghadapi permasalahan-permasalahan tersebut dengan seksama.

Egois, Idealis, KAKU itulah aku

Keragu-raguan, kegamangan, sikap yang terlalu berhati-hati dalam menghadapi semua tantangan hidup, sikap pembelajaran yang sangat kurang dari diriku, kurang merenung. Kurang mau belajar, dan masih terkungkung pada permasalahan-permasalahan yang tidak pernah berujung pangkal karena masih banyak menghindar dan kurang berani menghadapi realita yang memang begini adanya di kehidupan ini.

Egois, Idealis, KAKU itulah aku

Pensikapan yang tidak komprehensif dan cenderung sepotong-potong (partial) menyebabkan separo-paro juga hasilnya. Sikap puas terhadap yang ada sekarang, ataukah salah dalam pensikapan mensyukuri apa yang sudah ada belum bisa kuterjemahkan.

Egois, Idealis, KAKU itulah aku

Dua kali kugagal dalam menjalin hubungan dengan seseorang belum bisa kutemukan, bagaimana aku harus intropeksi diri agar bisa dan maju menghadapi hari depan yang memang masih panjang. Sikap terlalu memilih atau bagaimana aku tak tau or sikap ketakutan, kekhawatiran-kekhawatiran yang masih menyelimuti diri ini sebenarnya kusadari.

Egois, Idealis, KAKU itulah aku

Problem internal dari diri sendiri, keluarga, sikap kurang dinamis, kurang mau berkomunikasi secara efektif. Sikap masih menutup diri terhadap orang lain- kurang berani mengungkapkan sikap kepada seseorang karena menganggap diri sudah cukup dan merasa penuh dengan problem-problem intern tersebut dan tidak segera meloncat ke step selanjutnya.

Egois, Idealis, KAKU itulah aku

Sikap kurang disiplin, suka bercanda, tuk itu ku harus lebih serius, jangan mudah terpancing keadaan yang membangkitkan emosi, lebih arif dengan situasi dan kondisi, lebih mengerti bahwa kita ini sudah dewasa tidak lagi masanya untuk bercanda ria, hari kita masih panjang dan harus dilalui dengan kesungguh-sungguhan, mencari pemecahan masalah daripada tenaga, fikiran, kemampuan kita terbuang percuma untuk kepentingan yang tidak bermanfaat dagi diri sendiri, orang lain dan tentu saja bagi kepentingan dan kemaslahatan orang banyak.

Egois, Idealis, KAKU itulah aku
Tetap jalin komunikasi, silaturahmi dengan berbagai pihak mencari peluang kalau ada kesempatan segera ambil dan kembangkan kemampuan demi kemajuan kita.

Sikap-sikap yang perlu diperhatikan kedepannya :
- Lebih perhatian pada diri sendiri mengaca apa yang sudah kita lakukan, kita capai selama ini
- Jangan terlalu banyak pingin tahu / sok tahu tentang orang lain, merasa bahwa kita berhak untuk mengatasi masalah itu, kalau memang dibutuhkan keterlibatan kita dengan keadaan tersebut bantulah sebisa mungkin jangan hindari.
- Jangan sok keminter / merasa pintar lebih dari orang lain sehingga lupa akan diri sendiri merasa di awang-awang bahwa orang lain dibawah kita, padahal masih banyak orang yang lebih berguna, berjasa, dari diri kita ini .
- Jangan terrlalu banyak hilir mudik, berleha-leha, menghabiskan waktu luang untuk sesuatu yang tidak berguna kalau bisa cari kegiatan yang mampu menambah skill kita, ketrampilan dan selalu mencoba sesuatu hal yang baru.
- Segera bergerak dan melangkah jangan tunda – tunda bila sesuatu bisa diselesaikan hari ini segera selesaikanlah.

Egois, Idealis, KAKU itulah aku

Beberapa kejadian belakangan yang harus saya cermati di hari-hari refleksi ini :

- Jangan menyimpan sesuatu kalau memang itu sesuatu yang harus segera disampaikan
- Buat catatan yang bisa membuat diri kita ingat akan kejadian-kejadian
- Ketidakmengertianku tentang makna suatu hubungan dengan seseorang yang masih banyak aku harus belajar banyak bahwa satu kepala dengan kepala lainya adalah lain, bersikaplah mau lebih memahami isi hati, pikiran orang lain jangan jadikan diri kita sebagai standar yang baku untuk menilai suatu kebenaran.
- Senantiasa selalu ingat dan ingat doa dan doa selalu

Egois, Idealis, KAKU itulah aku

Hikmah yang kudapat di 31 tahun ini :

- Lebih maknai sholat dengan banyak latihan kontemplasi (Samsuddin Advice)
- Lebih berpikir ke depan future jangan flashback ke belakang terlalu banyak bernostalgia, hadapi apa yang memang ada di depan kita ini back – now to future, jangan menyerah dan menunggu suatu keadaan, bantuan orang lain, menyesali, menyalahkan keadaan dan kondisi yang ada tapi minimal kita tidak bergantung, tidak membebani orang lain dan lebih kreatif, inisiatif untuk menghadapi apa yang didepan kita. (Refleksi kejadian Anang)
- Hati – hati dengan tingkah laku, sikap, omongan, gaya kita terhadap orang lain (Kegagalan hubungan dengan Watik, Win, Rina dan wanita-wanita lain yang mungkin aku menyakiti meraka ataupun aku tak mampu memahami mereka sebagai makluk yang penuh kasih sayang, keanggunanan kerahasiaan tersembunyi yang belum mampu aku singkap apa dibalik diri mereka) Dulu memang aku meremehkan, apatis dan kurang perhatian dengan wanita, tidak aku pelajari dari dunia wanita yang bagaimana ku tak tahu.
- Selalu bakti kepada ibuku yang masih harus kita berbakti sampai akhir hayat karena selama ini semenjak kecil hingga dewasa ini kami selalu menyusahkanmu belum mampu membahagiakan dirimu, belum bisa memberikan yang terbaik tetapi malah selalu merepotkan, menambah beban dan kurang memikirkan dirinya. Ku belum mampu berbuat banyak untuknya, dulu sering kukecewakan dan malah pernah mungkin aku merasa menyakiti hatinya dengan berani dan tidak menghiraukan dirinya.
- Kepada bapakku yang bisa menanamkan kebaikan, sendi-sendi kemuliaan, sikap mau berkorban untuk masyarakat banyak, aku belum bisa membantu banyak belum bisa berbuat yang terbaik, dan masih belum mampu mememnuhi harapan dan cita-cita. Kebebasan yang engkau berikan membuat diri kami lena dan malahan mungkin kami tidak memanfaatkan kebebasan yang engkau berikan kepada kami untuk memenuhi harapan-harapan dan cita-cita yang masih harus kami emban untuk masyarakat banyak.
- Kepada masjid-masjid yang sampai saat ini kami hanya memanfaatkanmu sebagai tempat menghilangkan beban-beban kami, menjadikan engkau hanya sebagai tempat ritual, kami belum mampu memamkmurkanmu sesuai harapan untuk lebih mendayagunakan dan untuk lebih berguna bagi masyarakat sekitar. Ku belum mampu memecahkan kejumudan & kekonvensionalan ataukah kultur yang begitu. Cara memanusiakan orang tua, dengan keegoan jiwa muda kita, yang merasa benar, padahal dari merekalah kita mendapat banyak ilmu walau untuk kondisi sekarang pensikapan mereka kurang benar.
- Kepada Rasul kami, aku belum berittiba’ belum banyak belajar akan sirah-sirahmu, masih saja kugeluti keduniaan yang melalaikan, melupakan ajaranmu yang begitu mulia, tapi selalu kuikuti langkah-langkah musuhmu. Kami belum bisa mengemban amanahmu untuk berdakwah, beraar makruf nahi mungkar atau apa saja, masih kuikuti hawa nafsu yang sesuai dengan untuk kepentingan kami sendiri.
- Allah Yang Maha Kuasa, Maha Kasih, Maha Sayang, Maha Bergantung, Maha Mendengar, Maha Melihat, ku selalu berdoa, bersujud atau apa lah yang sepertinya aku masih seperti menjalani ritual-ritual, aku masih munafik, masih kufur akan nikmat, rahmat yang begitu besar engkau berikan tetapi aku tak mampu memanfaatkannya, aku menjadikanmu sebagai tameng untuk kepentingan keduniaannku, untuk memperoleh simpati dari manusia lain untuk memperoleh harta keduniaan, sepertinya aku menjual keMahaanmu untuk kepentingan diriku ini. Mohon ampun kami ini hamba yang dhoif yang banyak sekali kekurangan, kesalahan, kekhilafan, kesalahan dan semua kekurangan kami ini yang masih menuruti hawa nafsu, menuruti syaitan sebagai musuh kami tetapi kami malah seringkali mengikutinya.


Akhir Kata Diri Ini Memang Banyak Kurang Banyak Salah Banyak Yang Harus Diperbaiki di umur yang sudah kepala 3 ini, belum mampu berbuat untuk diri sendiri apalagi untuk orang lain, untuk Negara, untuk agama.


Terima Kasih Banyak Kuucapkan Kepada Allah Yang Maha Segalanya, Rasul Kami Muhammad sebagai tauladan kami, Kepada Kedua Orang tua Bp. Muhammad Qomari dan Ibu Wasilaturrohmah kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kami belum mampu membalas segala kebaikan yang engkau pancarkan selama ini, Kepada Guru-guru kami yang telah memberikan ilmu sehingga memberikan bekal hidup menghadapi dunia yang harus terus dijalani, Kepada Teman-teman kami di Sidomulyo rekan-rekan Remamuda, Karang Taruna, PASS yang memberikan aku banyak bekal, petuah-petuah, kebaikan-kebaikan yang sangat berguna, Kepada Teman-teman sekolah dari SD sampai Sekarang aku sering menyusahkan, sering merepotkan, membebani dan hanya bergantung tapi belum bisa memberi mereka apa kemanfaatan yang aku punya demi teman-teman yang banyak membantu baik selama belajar, bekerja dan menghadapi permasalahan-permasalahan hidup ini, rekan-rekan kerja yang seringkali aku meremehkan peran mereka, membebani, merepotkan, menggurui atau apa saja, Jakarta yang dulu aku selalu hindari dari aku tak tahu mengapa dulu aku membencinya tetapi disini aku bisa mengetahui makna hidup sebenarnya, bagaimana aku harus hidup, menjadi tempat belajar hidup yang sesungguhnya jauh dari orang tua, dari saudara tapi paling tidak engkau memberi aku banyak bekal, hikmah hidup yang banyak sekali, Bos Ade yang masih memberikan kepercayaan kepadaku tetapi kadang aku tidak amanah seringkali aku memanfaatkan untuk kebebasan, terima kasih atas kebebasan banyak pembelajaran yang aku peroleh dari sedikit yang dahulu aku tak mampu sekarang sedikit aku bisa bertambah ilmu, Saudara-saudara perempuanku aku sebagai saudara laki-laki belum mampu berbuat banyak untuk melindungi engkau, memberikan yang terbaik bagimu, malah aku banyak berbuat kesalahan kepada mereka.

Wassalam

Jakarta, 20 – 23 April 2007

Label: